banner 728x250
CMN  

Asal Usul Trah Kawitan Kayuselem Di Bali

Keterangan Foto : Asal Usul Trah Kawitan Kayuselem Di Bali
banner 120x600

Dalam Babad Kayuselem, dikisahkan bahwa Ida Bhatara Hyang Pasupati merasa prihatin melihat Pulau Bali yang selalu berselisih dengan Selaparang (atau Lombok). Untuk mencegah permasalahan ini, beliau menggunakan kekuatannya untuk memindahkan sebagian Gunung Mahameru dari Jambudwipa ke Bali dan Selaparang sebagai penahan agar kedua pulau tidak mudah dihanyutkan atau bertabrakan akibat gelombang. Pemindahan gunung ini menyebabkan munculnya enam gunung penting di Bali, yaitu Gunung Lempuyang, Gunung Andakasa, Gunung Watukaru, Gunung Beratan, Gunung Mangu, dan Gunung Tulukbiyu.

Setelah Pulau Bali menjadi lebih stabil, Bhatara Jagat Karana mengutus Bhatara Hyang Tiga, yaitu Bhatara Mahadewa, Bhatari Danuh, dan Bhatara Gnijaya, untuk turun ke Bali yang saat itu masih sunyi. Berkat kesaktian mereka, ketiga dewa tersebut tiba dengan selamat. Bhatari Danuh bersemayam di Ulun Danu, Bhatara Hyang Gnijaya di Gunung Lempuyang, dan Bhatara Putrajaya di Besakih.

banner 728x250

Dalam perjalanannya, Bhatara Putrajaya ditemani oleh para dewa lainnya, di antaranya Bhatara Tumuwuh (Gunung Watukaru), Bhatara Manik Kumayang (Gunung Beratan), Bhatara Hyang Manik Galang (Pejeng), dan Bhatara Tugu (Gunung Andakasa).

Bhatara Hyang Gnijaya dan Bhatara Hyang Mahadewa terus melakukan yoga semadi demi ketentraman dan kesejahteraan Pulau Bali. Dari semadi Bhatara Hyang Gnijaya, lahirlah anak-anak laki-laki yang cakap dan sempurna, yaitu Sang Brahmanda Pandita, Mpu Mahameru, Mpu Gana, Mpu Kuturan, dan Mpu Pradhah. Atas perintah ayah mereka, kelima putra ini dikirim ke Jambudwipa untuk memperdalam ilmu kesidhian. Setelah mencapai tingkat kesempurnaan, Sang Brahmanda Pandita menikahi Bhatari Manik Gni, putri Bhatara Hyang Mahadewa di Tolangkir, dan kemudian berganti nama menjadi Mpu Gnijaya. Dari pernikahan mereka lahirlah Mpu Ktek, Mpu Kananda, Mpu Wirajnana, Mpu Withadharma, Mpu Ragarunting, Mpu Preteka, dan Mpu Dangka, yang kemudian dikenal sebagai Pasek Sanak Pitu.

Setelah beberapa lama, Mpu Gnijaya bersama kedua adiknya, Mpu Gana dan Mpu Kuturan, kembali ke Bali menaiki daun kapu kapu dengan layar daun tehep. Setibanya di Silayukti, mereka langsung menuju Besakih untuk menghadap Bhatara Putrajaya serta Bhatara Gnijaya di Gunung Lempuyang. Selanjutnya, mereka sering berpindah antara Bali dan Jawa. Meskipun Pulau Bali semakin tenang, para dewa merasa ada yang kurang karena tidak ada manusia yang hidup di Bali untuk menyembah dan menghormati mereka.

Atas dasar itu, Bhatara Gnijaya dan Bhatara Catur Purusha sepakat untuk menghadap Bhatara Hyang Pasupati di Jambudwipa guna mengutarakan maksud mereka. Bhatara Hyang Pasupati menyetujui permintaan tersebut dan memerintahkan mereka menunggu di Besakih. Kemudian, Bhatara Hyang Pasupati turun ke Bali bersama para Dewa, Rsi Gana, Dewa Sanga, serta penghuni sorga lainnya. Dalam perjalanan, Bhatara Parameswara (Pasupati) mengendarai Padma Manik Anglayang, diapit payung serta umbul-umbul, sementara para dewa lainnya menaiki wahana masing-masing.

Setibanya di Tolangkir, mereka disambut oleh Bhatara Putrajaya, Bhatara Gnijaya, dan Bhatara Catur Purusha, sesuai dengan tata cara penghormatan yang berlaku. Mereka kemudian menuju Tampurhyang, di mana Bhatara Pramesti Guru bersabda:

“Anakku, para dewa semua, siapkanlah segala keperluan agar segera tercipta manusia yang kalian kehendaki. Hyang Iswara hendaknya menyusup di otot, Hyang Mahadewa di sumsum, Hyang Wisnu di daging, dan kamu, Sangkara serta Rudra, pada pabwahan (ginjal).”

Ketika semuanya telah siap, tiba-tiba datanglah Bhatara Yamadipati dalam wujud seekor anjing hitam yang berusaha menghalangi penciptaan manusia. Dengan angkuh, ia berkata:

“Hai Paduka Bhatara Pramesti Guru, sekarang Paduka hendak menciptakan manusia dari tanah? Mustahil! Andaikata benar manusia tercipta, aku sanggup memakan kotorannya!”

Mendengar hal itu, Bhatara Pramesti Guru murka dan menjawab:

“Hai Yamadipati yang sombong, jika manusia tidak tercipta, aku bukanlah dewa dan layak ditenggelamkan ke dalam kotoran!”

Kemudian, beliau melakukan yoga, menyalakan api perasapan (Kundagni), dan terbentuklah wajah manusia. Namun, saat hampir sempurna, ciptaan itu patah disertai gonggongan anjing “kong kong kong”. Begitu pula pada percobaan kedua dan ketiga, hingga lima kali beliau mengalami kegagalan. Marah karena merasa diejek oleh anjing tersebut, Bhatara Pramesti Guru akhirnya menyatukan Tiga Dunia (Triloka), membangkitkan Amerta, dan berhasil menciptakan manusia. Anjing pun tercengang dan kalah.

Bhatara Pramesti Guru bersabda:

“Sekarang kalah engkau, hai anjing! Mulai saat ini, anjing harus memakan kotoran manusia!”

Malu atas kutukan itu, Bhatara Yamadipati menangis dan pergi ke Yamadiloka. Di sana, ia mengumpulkan para pasukannya, memerintahkan mereka turun ke Madyaloka untuk menggantikan dirinya memakan kotoran manusia. Namun, sebagai balasannya, ketika manusia mati, mereka akan disiksa di Yamadiloka sesuai dengan perbuatannya di dunia.

Di Tampurhyang, Bhatara Pramesti Guru juga menciptakan manusia dari serabut kelapa gading, yang kemudian dikenal sebagai Ki Ketok Pita dan I Jenar. Mereka menikah dan melahirkan keturunan. Selain itu, beliau juga menciptakan Ki Abang dan I Barak, yang kemudian menetap di daerah yang kini disebut Desa Abang.

Seiring bertambahnya manusia di Bali, mereka masih awam dan belum memiliki keterampilan. Maka, Bhatara Indra mengajarkan mesesanggingan (ukir-mengukir), Bhagawan Wiswakarma mengajarkan ngundaginin (membuat bangunan), dan lainnya. Pada masa itu, hubungan antara manusia dan para dewa masih sangat erat, mereka bisa berbicara dan saling melihat.

Namun, hubungan ini terputus karena sebuah kejadian. Suatu senja, seorang manusia menyapa seorang Bhatara sambil buang air. Hal ini membuat Balwan (bunglon) marah dan mengutuk manusia agar tidak bisa lagi melihat para dewa. Bhatara pun menyetujui kutukan tersebut dan bersabda:

“Mulai saat ini, manusia tidak akan dapat melihat para dewa sampai akhir hayatnya. Jika ingin bertemu dengan kami, itu hanya akan terjadi saat kematianmu!”

Sejak saat itu, hubungan manusia dengan para dewa tidak lagi seperti sebelumnya, dan manusia hanya bisa menyembah dan merasakan kehadiran para dewa melalui yadnya dan upacara suci.

Teks yang telah disempurnakan tanpa subjudul:

Pada bagian lain, Babad Pasek Kayuselem menyelipkan kisah tentang bertahtanya seorang raja bernama Detya Karnapati dengan abhiseka Sri Jayapangus, yang berkeraton di Balingkang. Selama pemerintahannya, Bali berada dalam keadaan aman dan tenteram, dengan segala usaha yang selalu berhasil. Namun, setelah Sri Jayapangus wafat, Bali kembali lengang karena tidak ada raja yang membimbing penduduknya. Menyadari hal ini, Bhatara Putrajaya, Bhatara Gnijaya, serta Hyang Catur Purusa pergi ke Jambudwipa menghadap Bhatara Hyang Pramesti Guru untuk memohon agar Bali memiliki seorang raja. Permohonan mereka dikabulkan, dan sesuai hasil musyawarah para dewa, Mayadanawa ditetapkan sebagai pemimpin Bali.

Mayadanawa adalah putra Bhagawan Kasyapa dari pernikahannya dengan Dyah Wyapara. Ia menikah dengan Dewi Malini, putri Hyang Anantabhoga dan Ni Dewi Danuka. Selama memerintah di Bedahulu, ia didampingi seorang patih terkenal bernama Kala Wong, dengan pusat pemerintahannya di Batanar (Pejeng). Pada awal pemerintahannya, Bali tidak jauh berbeda dengan masa kepemimpinan Sri Jayapangus. Namun, keadaan ini tidak berlangsung lama. Sifat loba, tamak, dan angkara murka semakin menyelimuti hati Mayadanawa. Ia lupa bahwa sebagai raja, tugasnya adalah mengayomi dan melindungi rakyat. Bahkan, ia menghalangi serta melarang rakyatnya menghaturkan sembah kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Mayadanawa beranggapan bahwa tidak ada yang lebih berkuasa dan berpengaruh selain dirinya, sehingga ia melarang rakyat melakukan persembahan kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. Keputusan ini membuat para dewata resah, sebab rakyat Bali menjadi takut untuk beribadah. Keresahan ini semakin memuncak, hingga para Bhatara dan dewata di Tolangkir menghadap Hyang Pramesti Guru, memohon agar Mayadanawa dimusnahkan dari Madyaloka. Hyang Pramesti Guru kemudian memerintahkan para dewata, resi, serta Bhatara Indra untuk turun ke Bali dan menumpas Mayadanawa.

Setibanya di Bali, pertempuran dahsyat terjadi antara pasukan Mayadanawa dan para dewata. Korban berjatuhan di kedua belah pihak, tetapi pasukan Mayadanawa semakin terdesak di bawah serangan para dewata yang dipimpin Bhatara Indra. Mayadanawa dan Patih Kala Wong mencoba melarikan diri dengan menyamar dalam berbagai bentuk, tetapi penyamarannya selalu terungkap oleh Bhatara Indra. Mayadanawa menjelma menjadi pohon timbul, kemudian lari ke surga sebagai seorang bidadari, tetapi tetap ditemukan. Dalam Usana Bali, disebutkan banyak desa yang namanya dikaitkan dengan penyamaran Mayadanawa saat melarikan diri. Tempat ia menjelma menjadi busung (daun kelapa muda) disebut desa Belusung, menjadi pusuh (jantung pisang) disebut desa Paburwan, menjadi batu besar disebut desa Sebatu, menjadi burung disebut desa Manukaya, dan menjadi padi disebut desa Tampaksiring. Akhirnya, ia sampai di suatu tempat dan menjelma menjadi padas (paras). Dalam wujud inilah ia dipanah oleh Bhatara Indra hingga tewas. Tempat terbunuhnya Mayadanawa dan Patih Kala Wong kini dikenal sebagai desa Toya Dapdap dan Pangkung Petas. Sementara itu, darah Mayadanawa yang terus mengalir menjelma menjadi sungai yang kini dikenal sebagai Sungai Petanu.

Setelah kematian Mayadanawa, arwahnya dapat kembali ke surga. Meskipun semasa hidupnya ia berbuat kejahatan dan melarang rakyatnya beribadah, ia tetap dianggap sebagai seorang ksatria (puruseng rana) yang rela berkorban di medan pertempuran. Dewi Malini merasa sedih atas kepergian suaminya dan berharap arwahnya bisa kembali ke dunia. Ia kemudian pergi ke Sapta Petala menghadap ibunya, Dewi Danuka. Namun, Dewi Danuka tidak dapat menyelesaikan permasalahan tersebut, sehingga mereka berdua menghadap Dewi Wyapara. Dewi Wyapara pun tidak bisa memberikan solusi, sehingga mereka bertiga pergi ke Indraloka untuk menghadap Bhatara Indra dan memohon agar Mayadanawa dapat kembali menjelma menjadi raja di Bali.

Bhatara Indra mengabulkan permohonan tersebut dengan syarat sebelum menjelma kembali, Mayadanawa harus melakukan yoga semadi untuk menyucikan diri dari segala dosa yang telah diperbuatnya. Setelah yoganya selesai dan semua dosanya lenyap, ia diperintahkan menjelma kembali sebagai raja di Bali dengan abhiseka Sri Aji Masula Masuli. Sejak saat itu, Bhatara Indra menetapkan aturan bagi rakyat Bali bahwa mereka tidak diperkenankan menikah dengan saudara kandung. Jika ada yang melanggar, mereka akan dibuang ke laut karena dianggap mencemarkan negara. Jika ada pasangan yang melahirkan anak kembar laki-laki dan perempuan seperti Sri Aji Masula Masuli, mereka harus disingkirkan dan tinggal di dekat kuburan selama 42 hari. Untuk mengembalikan kesucian desa, upacara pamalik sumpah dan anyapuh harus dilakukan guna menghilangkan segala bentuk kekotoran (keletehan).

Dari Sri Aji Masula Masuli, lahirlah seorang putra tampan yang ahli dalam ilmu Weda dan mantra, bernama Tapolung (Tapaulung). Ia kemudian menggantikan ayahnya sebagai raja di Bali, didampingi dua patih setia, yaitu Pasunggrigis dan Kebo Iwa. Selama pemerintahan Raja Tapolung, Bali tetap aman seperti pada masa kepemimpinan Sri Aji Masula Masuli.

Pada bagian akhir babad ini, disebutkan bahwa Bhatara Putrajaya memerintahkan beberapa tokoh suci untuk melakukan yoga di tempat-tempat tertentu. Mpu Gnijaya beryoga di Gunung Lempuyang bersama Bhatara Kamimitan, yaitu Bhatara Gnijaya. Mpu Semeru beryoga di Besakih bersama Bhatara Putrajaya. Bhatara Ghana beryoga di Dasar Bhuwana, Mpu Kuturan beryoga di Silayukti, dan Mpu Bradah melakukan perjalanan ke Jawa dan Bali (angajawa dan angabali). Mpu Gnijaya menurunkan Sanak Pitu, Mpu Semeru menurunkan Mpu Kamareka, dan Mpu Ghana menurunkan Mpu Galuh.

Setelah memahami isi Babad Pasek Kayuselem yang menjadi dasar penyusunan tulisan ini, kini kita beralih membahas asal-usul Warga Pasek Kayuselem. Ketika para dewata merabas dan membakar hutan di Gunung Tampurhyang, terdapat sebuah pohon asam (tuwed) yang tidak habis terbakar. Pohon tersebut tampak seperti seseorang yang sedang bersemadi (ngranasika). Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Bali, Bhatara Brahma diperintahkan oleh Hyang Pramesti Guru untuk turun ke Bali dan menciptakan manusia agar ada keturunan Bhujangga di Bali.

Ketika tiba di Tampurhyang, Bhatara Brahma melihat tuwed asam tersebut dan tertarik untuk memperbaikinya. Ia kemudian mengundang Bhagawan Wismakarma untuk memperhalus pohon itu hingga benar-benar menyerupai manusia. Agar tidak dikenali oleh orang-orang Baliaga, Bhagawan Wismakarma menyamar sebagai seorang petani berpakaian kotor dan bertopi kuskusan. Setelah berhasil membentuk manusia dari pohon tersebut, ia pun memberikan petunjuk kepada masyarakat Baliaga tentang cara membuat bangunan (ngundaginin) agar dapat dikembangkan di masa depan.

Atas perintah Hyang Pramesti Guru, Bhatara Indra ditugaskan mengajarkan keterampilan ukiran (sangging) kepada masyarakat Baliaga. Selama berada di Tampurhyang, Bhatara Indra juga menyempurnakan togog celagi yang sebelumnya telah diperhalus oleh Bhagawan Wismakarma.

Demikian pula, agar penduduk Baliaga mengenal perdagangan, Bhatara Hyang Pramesti Guru mengutus para Bidadari menyamar menjadi penjual keris serta kain agar dapat ditiru oleh wong Baliaga.

Pada kesempatan ini, para Bidadari pergi ke tempat Togog Tuwed Celagi dan mengenakan kain, destar, sampir, ikat pinggang, serta menyisipkan sebuah keris di pundaknya. Keindahan Togog makin bertambah, serta orang-orang Baliaga tidak bosan-bosan menikmatinya. Siang malam mereka berbondong-bondong melihat, sehingga tak ubahnya seperti Sang Kresna di Dwarawati sedang dihadap para menteri dan rakyatnya. Kewibawaan Togog makin cemerlang, sehingga banyak di antara mereka yang kagum dan tercengang menyaksikannya. Bahkan, banyak pula di antara mereka yang mengeluarkan ucapan bahwa apabila Togog tersebut benar-benar berwujud seorang manusia, mereka akan sanggup menghamba selama hidupnya.

Diceritakan, Mpu Mahameru turun ke Bali hendak menghadap Bhatara Putrajaya di Tolangkir dan Bhatara Ghnijaya di Lempuyang. Dalam perjalanannya menuju Desa Kuntugladi, beliau beristirahat sejenak di Tampurhyang. Di tempat itu, Mpu Mahameru melihat air yang jernih, sehingga timbul hasrat beliau untuk mencuci muka. Ketika beliau mencuci muka, terlihat olehnya Tuwed Celagi yang amat tampan dan berwibawa sedang dikerumuni oleh orang-orang Baliaga. Terketuk hati beliau untuk menjelmakan Togog tersebut menjadi seorang manusia. Mpu Mahameru beryoga, dan dengan segala keahliannya, terjelmalah Togog itu menjadi seorang manusia.

Tiba-tiba, manusia penjelmaan Togog (Kayureka) menjadi amat tercengang serta keheran-heranan sebab tidak mengetahui apa yang harus ia perbuat. Seraya menghaturkan sembah di hadapan Sira Mpu, ia pun bertanya, “Wahai Paduka Sang Mahamuni, siapakah yang telah menaruh belas kasihan kepada hamba, sehingga hamba benar-benar menjelma menjadi seorang manusia?”

Mpu Mahameru menjawab, “Hai Kayureka, akulah yang menjelmakanmu menjadi manusia.”

Kayureka menyembah dan memeluk kaki beliau seraya bertanya, “Siapakah sebenarnya Paduka yang masih kasihan kepada hamba?”

Mpu Mahameru menjelaskan bahwa beliau adalah putra Bhatara Ghnijaya yang bersemayam di Adrikarang (Lempuyang). Mendengar penjelasan itu, Kayureka berkata, “Wahai Mpu, Engkau junjungan hamba, hamba merasakan seolah-olah mendapatkan amerta dari Paduka. Apakah yang harus hamba pergunakan untuk membayar hutang hamba kepada Paduka, yang tak ubahnya sebagai bumi dan akasa ini? Sekarang, tuluskanlah belas kasihan Paduka kepada hamba agar segala dosa yang ada pada diri hamba menjadi bersih seterusnya. Demikian juga, apabila Paduka berkenan, hamba memohon agar hamba bisa juga kiranya mengikuti jejak Sang Mahameru.”

Mpu Mahameru menjawab, “Tidak boleh aku menganugerahkan Sanghyang Aji kepadamu, sebab engkau bukanlah berasal dari manusia. Tidak sepatutnyalah Sanghyang Aji dianugerahkan kepadamu.”

Mendengar jawaban itu, Kayureka menangis, menyesali nasibnya yang malang, serta berkata, “Wahai Paduka Bhatara, seandainya Paduka tidak ada belas kasihan kepada hamba dan tidak menganugerahkan Sanghyang Aji, baiklah kembalikan diri hamba kepada wujud semula, yaitu berupa Tuwed. Apakah gunanya hamba menjadi manusia jika tidak mengetahui tata laksana dan selalu akan dijadikan tertawaan orang?”

Mpu Mahameru tertegun mendengar ucapan Kayureka. Tiba-tiba, terdengar suara dari angkasa, “Anakku Sang Mpu, janganlah demikian. Boleh juga anakku menganugerahkan Sanghyang Aji kepadanya, sebab anakku jugalah yang menjelmakan Kayureka menjadi manusia. Janganlah khawatir, aku memperkenankan Sanghyang Aji diajarkan kepadanya.”

Mpu Mahameru berpikir dan berkata, “Wahai Kayureka, benarlah kamu ini seorang dewata yang berganti rupa menjadi sebuah Togog. Pantaslah kamu menjadi Wong Lawu. Sekarang, marilah mendekat kepadaku, aku akan menganugerahimu.”

Kayureka pun mendekat dan menunduk di hadapan Sang Adiguru.

Sabda Sang Mahajati, “Hai Kayureka, dengarkanlah petuahku baik-baik, dan janganlah engkau mengumbar-ambirkan serta meremehkannya, karena Sanghyang Aji yang akan aku anugerahkan amat keramat. Terimalah anugerahku, semoga kamu dapat meresapkannya ke dalam batinmu. Dan karena tidak adanya Bhujangga di Bali, mulai sekarang engkau diperkenankan menjadi Bhujangga (mujanggain) orang-orang Baliaga semuanya. Janganlah lupa memberitahukan keturunanmu agar mereka selalu mengingat asal-usulnya. Begitu pula kelak, apabila lahir keturunan dari kakakku Mpu Ghnijaya, keturunanmu harus menghormat dan menyembahnya. Tetapi keturunanku tidak boleh menyembah keturunanmu, sebab kamu adalah aguru putra denganku, lagi pula penjelmaanmu berbeda dengan kelahiranku. Ingatlah, jangan lupa! Amat berbahaya apabila engkau tidak mentaati petuahku.

Adapun, anakku Kayureka, oleh karena engkau sudah apodgala (dibaptis), mulai sekarang engkau bernama Mpu Bendesa Dryakah, sebab engkau berasal dari Tuwed pada mulanya. Engkau diperkenankan melaksanakan upakara kematian (pralina ngentas), tetapi yang boleh kamu selesaikan upakaranya hanyalah orang-orang Baliaga saja. Anakku Mpu Dryakah, kelak apabila engkau sudah meninggal dan diupakarai oleh anak cucumu, upakaranya tidak boleh diselesaikan oleh Brahmana. Kamu cukup memohon di kawitanmu (kahyanganta), sebab asal-usulmu bukanlah dari manusia. Apabila anak cucumu telah selesai mengupakarai jasadmu, engkau diperkenankan melakukan Pitra Yadnya sebanyak tiga turunan, dan setelah tiga turunan barulah Sang Resi Siwa Bhudha diperkenankan menyelesaikan (muputang) upakaranya. Ingat dan beritahukanlah petuah-petuahku ini kepada seluruh keturunanmu, karena amat berbahaya apabila terkena kutukanku.”

Demikianlah sabda Mpu Mahameru kepada sisyanya, disertai sembah sujud Mpu Dryakah di hadapannya.

Selain itu, Mpu Mahameru memperingatkan kepada orang Baliaga bahwa kelak apabila di antara mereka ada yang hendak melaksanakan upakara Pitra Yadnya, mereka diperkenankan membakar jasad (mabya geseng), dan setelah dibakar diperkenankan menanam kembali. Itulah yang disebut Wangsa Krama Tambus, yang penyelesaian upakaranya dilaksanakan oleh Mpu Dryakah. Sebagai kelanjutannya, mereka diperkenankan juga melaksanakan upakara Matres dan Matuwun.

Mpu Mahameru menegaskan, apabila mereka hendak bercakap-cakap dengan Bhujangga Mpu Bendesa Dryakah, mereka harus menyebut beliau “Jro Gede” sebagai panggilan penghormatannya.

Setelah memberikan penjelasan kepada Wong Baliaga, untuk lebih menyempurnakan keutamaan (kahotaman) Mpu Bandesa Dryakah, Mpu Mahameru kembali menganugerahkan Sanghyang Aji, sehingga pikiran (ajnanan) Mpu Dryakah makin terang. Sejak saat itu, nama beliau diganti menjadi Mpu Kamareka.

Teks yang telah diperbaiki tanpa mengubah isi kalimat:

Demikian pula, mereka yang sudah dianggap ahli dalam menjalankan tata agama diperkenankan mujanggain, tetapi batasnya hanya tiga turunan. Setelah itu, surud kembali. Kelak, apabila ada keturunanmu hendak membakar jasad leluhur, sementara belum ada Brahmana di Bali yang lahir dari keturunan Mpu Ghnijaya, keturunan beliau yang disebut Jro Gede diperkenankan menyelesaikan upakaranya.

Sekarang, anakku diperkenankan melaksanakan penyelesaian (muputang) jasad orang-orang Baliaga semua. Sebelum Mpu Mahameru kembali ke Jawadwipa, beliau tidak lupa menganugerahkan Sanghyang Aji kepada Mpu Kamareka. Sepeninggal Mpu Mahameru, Mpu Kamareka memberi petuah kepada putranya sesuai dengan petuah yang beliau terima dari Mpu Mahameru.

Antara lain, oleh karena telah banyaknya keturunan Mpu Kamareka, ditekankan agar pratisentanan beliau tetap menjaga gagaduhan dan harus aguru sisya dengan keturunan Bhatara Ghnijaya yang disebut Sanak Pitu. Walaupun mereka bersaudara, oleh karena asal penjelmaan mereka berbeda, maka ditegaskan bahwa keturunan Mpu Kamareka harus menghormati dan menyembah keturunan Sanak Pitu.

Keturunan Mpu Kamareka tidak diperkenankan saling mengambil (silih alap) dengan keturunan Sanak Pitu. Tetapi, apabila keturunan Sanak Pitu berkenan, mereka boleh mengambil keturunan Mpu Kamareka. Keturunan Sanak Pitu tidak diperkenankan menyembah keturunan Mpu Kamareka, tetapi keturunan Mpu Kamareka harus menyembah keturunan Sanak Pitu karena mereka pernah sisya dengan Bhatara Ghnijaya.

Seandainya keturunan Mpu Kamareka meninggal, jasadnya tidak boleh dibakar agar asapnya tidak membubung lebih atas dan mencapai pura Panarajon, pura Ulun Danu, pura Tegeh, serta gunung Tampurhyang. Bhatara tidak menginginkan kahyangan beliau diliputi asap mayat yang amat kotor (leteh). Untuk mengatasi hal ini, mereka hanya diperkenankan melaksanakan upakara penguburan (mabya tanem).

Di samping Mpu Ghnijaya Mahireng, Mpu Kamareka juga melahirkan tiga orang putra, yaitu Sang Made Clagi, Sang Noman Taruan, dan Sang Ketut Kayuselem, yang setelah dibaptis (apodgala) masing-masing berganti nama menjadi Mpu Kaywan, Mpu Nyoman Tarunyan, dan Mpu Badengan. Seperti halnya Mpu Ghnijaya Mahireng, ketiga adiknya ini pun menjadi Bhujangga di Bali.

Dari Goa Song, mereka berpindah dan beryoga semadi mencari tempat masing-masing. Mpu Kaywan berpindah dan beryoga di Panarajon, Mpu Nyoman Tarunyan pindah ke gunung Tuluk Biyu di Blong yang selanjutnya disebut desa Tarunyan, sedangkan Mpu Badengan menetap di Gwa Song (Songan) bersama kakaknya, Mpu Ghnijaya Mahireng.

Catur Bhujangga ini melahirkan keturunan yang pada akhirnya saling mengambil (silih alap) di antara mereka. Dunia terus berputar, usia Mpu Kamareka semakin lanjut, dan masanya kembali ke alam sunya semakin mendekat. Kini, Mpu Kamareka sudah wreda. Beliau menyadari bahwa tidak lama lagi akan meninggalkan anak cucunya.

Oleh karena itu, beliau memanggil seluruh anak cucunya untuk menyampaikan bahwa pada purnamaning kartika, beliau akan meninggalkan mereka dan kembali kepada Sanghyang Acintya. Pada kesempatan itu, beliau berpesan bahwa setelah beliau meninggal, anak cucunya harus membuatkan kahyangan untuk mengukuhkan (ngadegang) Sanghyang Tri Purusa beserta Hyang Bhatara lainnya, serta khusus baginya agar dibuatkan sebuah bebaturan sebagai pelinggihnya.

Kahyangan tersebut harus dipelaspas, anyapuh, serta melaksanakan piodalan pada hari Tilem Kadasa. Seluruh keturunannya (Warga Pasek Kayuselem) harus melaksanakan upacara di atas dengan khidmat dan penuh ketakwaan. Mereka yang tidak mau patuh terhadap petunjuk beliau akan terkena kutukan, yaitu banyak bekerja tetapi tidak menemukan pahalanya.

Segala tindak perbuatannya tidak akan menemukan kebahagiaan, serta setiap kali akan meraih sesuatu, akhirnya berujung kegagalan (sugih gawe kurang pangan, salampah lakunya tan amangguhaken ayu, mentik-mentik punggel).

Selanjutnya, apabila di kahyangan tersebut tumbuh pohon kayu yang berwarna hitam, hal itu menjadi pertanda bahwa beliau (Mpu Kamareka) telah berbadan sakala-niskala, telah berada di sisi Sanghyang Jagat Karana. Sejak saat itu, kahyangan tersebut diberi nama pura Kayuselem.

Seandainya di Gwa Song telah tumbuh pohon beringin, itu adalah pertanda bahwa di alam sunya, Mpu Kamareka telah atirta gamana. Di sanalah beliau mendoakan seluruh keturunannya (Warga Pasek Kayuselem), yang taat dan patuh terhadap petuahnya, agar tidak kekurangan sesuatu apa pun, hidup dalam kebahagiaan.

Bagi mereka yang telah ahli dalam menjalankan Weda Mantra, diperkenankan melaksanakan upakara (manditanin) dan patut dihormati seluruh keluarganya.

Kini, tibalah purnamaning kartika, hari yang ditunggu-tunggu. Mpu Kamareka bersiap menuju sunya taya. Pada waktu itu, seluruh wong Baliaga, para tamu, terutama warga Sanak Pitu, diundang untuk menghadiri dan menyaksikan perjalanan beliau menuju alam niskala.

Putra-putra beliau, sang atur pandita, yaitu Mpu Ghnijaya Mahireng, Mpu Panarajon, Mpu Tarunan, serta Mpu Badengan, sibuk menyambut para tamu yang datang.

Pada hari yang telah ditentukan, Mpu Kamareka mengenakan pakaian serba putih sebagai tanda kesuciannya. Seluruh persiapan upakara telah disiapkan, termasuk dupa, menyan, astanggi, tile gandapati, serta seluruh alat pemujaan lainnya yang telah ditempatkan dengan tertib.

Dengan tenang dan tabah, Mpu Kamareka dituntun oleh para putranya untuk menjumpai para tamu yang diundangnya. Kepada para tamu, Mpu Kamareka berkata dengan penuh hormat:

“Amatlah berbahagianya hati kami, sebab seluruh Maha Pandita telah datang ke tempat ini, meluangkan waktu untuk memenuhi undangan kami, menyaksikan, dan memberikan doa restu sebagai pengantar kami menuju alam sunyata. Kesemuanya ini benar-benar mengharukan dan menggembirakan hati saya, sebab menandakan bahwa para Mpu benar-benar tulus dan ikhlas terhadap hamba.”

Para Mpu serta sisya beliau menjawab:

“Wahai adikku Sang Mpu, andaikata demikian, maafkanlah kami jika seolah-olah lupa mematuhi kehendak Sang Mpu. Kini, kami akan selalu bersedia memenuhi dan mentaati kehendak adik Sang Mpu.”

Mpu Kamareka kemudian berkata kepada para sisyanya:

“Aduhai para sisyaku semua, dengarkanlah sekali lagi petuahku. Apabila keturunanmu telah berkembang, beritahukan pula kepadanya bagaimana cara melaksanakan upakara berkenaan dengan upacara kematian (ngaben).”

Setelah menyampaikan seluruh petuahnya, Mpu Kamareka melakukan yoga dan dengan tenang moksa menuju alam sunyata.

Diceritakan, setelah Mpu Kamareka moksa, Mpu Ghnijaya Mahireng beserta saudara-saudaranya dan cucunya berkumpul untuk membicarakan petunjuk yang telah disampaikan. Mereka segera melaksanakan upakara pitrayadnya, mengundang para pandita Sanak Pitu ke Songan.

Upacara berlangsung dengan meriah, diiringi gambelan selonding yang menambah khidmatnya prosesi tersebut. Setelah upacara selesai, para tamu kembali ke tempat masing-masing, dan Mpu Ghnijaya Mahireng beserta anak cucunya membangun kahyangan sesuai dengan petuah sang wuwus lepas.

Demikianlah asal-usul Trah Kawitan Kayuselem di Bali, yang berakar dari perjalanan leluhur dan diwariskan melalui generasi. Hingga kini, tradisi dan nilai-nilai spiritualnya tetap dijaga sebagai bagian dari warisan budaya Bali. (!)

Loading

banner 728x250
banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x250